Home » Lipu Papalan » Banggai Darat » Cuitan Fadly Aktor Dinilai Melecehkan Privasi AT-FM, Sartun : Tidak Etis Mensinonimkan Nama Bupati dan Wabup Pada Binatang
pasang-iklan-atas

Cuitan Fadly Aktor Dinilai Melecehkan Privasi AT-FM, Sartun : Tidak Etis Mensinonimkan Nama Bupati dan Wabup Pada Binatang

Pembaca : 18
IMG_20210717_145403_802

ALAIMBELONG.ID – Luwuk. Cuitan Fadly Aktor di media sosial facebook yang bernada menyerang pribadi dan mengolok-olok Bupati Banggai Amirudin Tamoreka dinilai telah melampaui etika dan adab sebagai warga masyarakat banggai yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika sosial.

Setelah sebelumnya Bosanyo Masama, Rahmat Jalil yang menilai cuitan Fadly Aktor di media sosial facebook bernuansa provokatif, karena mencoba menghadap-hadapkan antara Tomundo Banggai, Hideo Amir, dan Bupati Banggai Amirudin Tamoreka, terkait penyataan Bupati yang mengakui etnis Andio sebagai salah satu etnis lokal di wilayah Banggai sebagai suatu tindakan yang melampaui kewenangan Bupati karena telah mengambil alih otoritas pemimpin tertinggi adat yaitu Tomundo Banggai. Kini sorotan itu datang dari mantan Liaison Officer (LO) Amirudin Tamoreka, Sartun T. Landengo, SH.

“Saya tidak ada soal kalo kemudian Fadly Aktor itu mengekspresikan ketidaksukaannya terhadap setiap kebijakan yang diambil oleh pemimpin Banggai yang baru, AT-FM. Itu biasa, tapi menyerang pribadi dan mengolok-olok atau menjadikan nama Bupati dan Wabup sebagai bahan bullyan itu tentu tidak etis dan berlebihan. Apalagi nama AT-FM disematkan sinonim-sinonimnya pada Binatang seperti Kucing dan ikan,”ujar Sartun kepada awak media Alaimbelong.id (16/7/2021) sambil membacakan contoh cuitan Fadly Aktor yang dinilainya tidak etis.

“Contohnya dia bilang bgini: SATU KABUPATEN TAMEREK UDIN, kadis-kadis dan camat tambah samua kamu pe nama di belakang dengan UDIN…dst,” ini jelas ya yang dia maksud Udin dan dia jadikan nama itu bahan bullyan itu adalah nama pak Bupati Amirudin, dan Wabup Furqanuddin, karena gambar dari postingan ini adalah foto AT-FM,”jelas Sartun.

Di postingan berikutnya dengan Gambar seekor Kucing, kata sartun kembali membacakan.

“SABAR KO UDIN, BADAI PASTI BERLALU. Tak perduli siapapun itu, berbagi itu untuk semua, bukan untuk sesama. Termasuk kepada UDIN. Walau dia hanya seekor kucing yang entah darimana asalnya. Alhamdulillah, berkah Allah yang tidak pernah hilang dari diri ini, senang dan bahagia untuk berbagi dengan siapapun. UDIN lagi bermanja-manja sehabis makan,”

Demikian juga cuitan dengan gambar Fadly memancing ikan. dia juga tulis begini. “…setelah sekian lama sy memancing Akhirnya badapat. Ikan ini Jenis Pogot Super, saya beri nama dia UDIN POGOT,”urai sartun.

Sartun yang sempat saling sahut dan disebut Jongos Politik oleh Fadly dalam perdebatan mereka di facebook, mengatakan bahwa dirinya terpaksa berkomentar karena melihat cuitan Fadly sudah terlalu jauh dan menyeret ruang privasi AT-FM ke ruang publik yang tidak ada kaitannya dengan kebijakan mereka sebagai Bupati dan Wabup Banggai.

“Fadly Aktor; Saya di bilang jongos politik dari negeri seberang. Sehari sebelum saya dibilang jongos oleh dia (Fadly-red) telah ada tulisan ringan saya di media, sebagai kritik serta saran buat tuan-tuan yang ada di rumah politik AT. Jadi saya tidak memenuhi syarat sebagai seorang jongos politik,”

“Dan ingat, saya melawan karena bapak terlalu jauh menyeret ruang privasi orang ke ruang publik, ingat, mereka sebagai pribadi, bukan sebagai Bupati atau Wabub”

“Di posisi mereka sebagai Bupati atau juga wabub layak menjadi subjek kritiknya bapak (Fadly-red), tapi kalo so pribadi mereka itu urusan laen, dan pasti torang berdebat panjang, perkara lebe juga saya siap. Saya tidak barani, tidak jago, tapi saya tidak takut,”tulis Sartun dilaman facebooknya.

Lebih lanjut, Ketua Dewan Pembina KaMIMo Banggai itu mengatakan, bahwa postur tubuh (badan) dan nama pribadi adalah kemuliaan yang di punyai seseorang, sebab keduanya merupakan pemberian Allah dan orang tua, sehingga tidak elok untuk dijadikan bahan olok-olokan.

“Postur tubuh adalah pemberian dari Allah, sebai-kbaik penciptaan (maha karya), sedang nama seseorang adalah sebaik-baiknya doa dan harapan orang tua terhadap anaknya. Dan kemuliaan ini iya bersifat privat (bukan publik), juga menjadi hak setiap pribadi yang di lindungi oleh negara.

Karena bersifat privat maka sangat tidak etis bagi siapapun termasuk Fadly Aktor untuk menjadikan ini pembahasan publik. Apalagi sampai di jadikan bahan ejekan (bullying),”ujarnya.

“Hanya mereka yang sabar serta humanis yang merelakan kemuliaan mereka di jadikan bullying di publik. Permainan kata mungkin dapat mensamarkan maksud pidana (pogging), (begin van uitvoerings handeling), serta dapat mengakali kedaulatan hukum, hingga hukum menjadi mandul. Namun maksud tidak bisa tersamarkan oleh kedaulatan nurani. Jadi ketersinggungan hukum beda dengan ketersinggungan nurani.
Hukum menunjukan kedaulatan dirinya lebih terang dari cahaya, sedang nurani menunjukan kedaulatan dirinya lebih hitam dari pada gelap,”tegasnya lagi.

Sartun menambahkan, idealnya kritik memiliki basis argumentasi, bukan asal bunyi (bicara-red).

“Kritik itu basisnya argumentasi, tapi kalo hanya asal ba bunyi kalangkabut ba campur puisi belas asih kepada jendral, itu depe nama cerewet. Itulah kenapa literasi itu penting supaya tidak miskin narasi, bagimana mo itu stel propagandator den agitator bagitu kalu hele ba baca buku tidak,”

“Takdir kelam seorang propagandator dan agigator adalah ketika publik menyebut mereka provokator. Namun, sekalipun di takdirkan oleh publik mereka adalah provokator tapi mereka masih mampu memisahkan bahan mana dan layak di jadikan agitprop ke publik dan mana yang tidak, dan masih punya etika untuk tidak membawa ruang privasi ke ruang publik, mungkin ada, tapi paling basasambunyi karna malu, ya karna memang itu pakarjaannya orang bodok, tomang, dan tidak ada malu (tukang gibah),”pungkasnya. *(RB)

Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait