Home » Rubrik » Opini » Awanthy, Spirit Yang Tak Henti
pasang-iklan-atas

Awanthy, Spirit Yang Tak Henti

Pembaca : 2
20210729_125637

Oleh : Mohammad Zamrud

 

Dia bukan seorang selebritis dan pesohor di negeri ini. Bukan pula tokoh nasional dan birokrat yang selalu menjadi media darling. Dia hanyalah seorang bidan yang berbakti di pulau kecil nun jauh di pelosok sana. Tapi apa yang dilakukannya minggu lalu membelalakkan nurani dan sisi kemanusiaan kita. Dialah Awanthy.

Bermula di tanggal 21 Juli kemarin. Sumarti, seorang ibu yang lagi hamil tua. Umur kehamilannya diperkirakan sudah gestasi kedelapan. Namun ibu ini menderita hipertensi. Diputuskan untuk dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatan perawatan intensif. Perjalanan dari desa Lantibung ke rumah sakit di ibukota kabupaten Banggai Laut hanya bisa dilalui melalui jalur laut. Ditemani bidan Awanthy, ibu hamil ini dirujuk menggunakan perahu kecil. Di musim ombak seperti ini, waktu tempuh yang biasanya dua jam menjadi tiga sampai empat jam. Tak disangka, ibu ini melahirkan diatas perahu. Di tengah kepungan gelombang, sang bidan dengan sigap membantu persalinan. Bayi mungil yang dinantikan selamat terlahir ke dunia. Debur ombak dan tangisan bayi lebur menjadi satu membentuk orkestra. Momen inilah yang kemudian viral di medsos dan memantik simpati dimana-mana.

Apresiasi pun datang bertubi-tubi dari pejabat kepada bidan luar biasa ini. Tak kurang, Wagub Sulawesi Tengah, H. Ma’mun Amir menyatakan pujiannya. Undangan dari Gubernur juga sudah diterimanya. “Nanti saya bersama-sama pak Bupati akan ke Palu menghadiri undangan dari pak Gub. Katanya saya mau diberi penghargaan. Penghargaan itu bukan tujuan saya, saya melakukannya demi keselamatan sang ibu” ungkapnya.

Saya melihat pengabdian yang luar biasa dari bidan yang pernah mengenyam pendidikan di Akbid Buton Raya tersebut. Di Puskemas Lantibung tempatnya bekerja, aktivitasnya sangat padat. Banyak warga yang datang berobat diluar jam kerja. Di masa pandemi ini, tugas nakes menjadi bertambah. Memvaksin warga. Layanan kesehatan juga diberikan kepada lansia maupun anak-anak. Dipulau Bangkurung sendiri, ada dua belas desa yang kesemuanya berada di pesisir.

Di kabupaten yang memiliki banyak pulau-pulau kecil, seperti Banggai Laut dan Banggai Kepulauan semuanya masih jauh dari ideal. Saya pernah bertugas disana kurang lebih 6 tahun. Saya masih melihat anak-anak di subdesa Mele pulang pergi ke sekolah di desa Binuntuli menggunakan perahu karena tidak adanya akses jalan darat. Atau hasil tangkapan nelayan di Pulau Sonit yang menurun mutunya karena kekurangan pasokan es. Kisah ibu yang melahirkan di atas perahu bisa terjadi dimana saja. Di pelosok pinggiran negeri ini yang belum tersentuh pelayanan.

Beberapa kepala daerah berlomba-lomba berinovasi untuk memajukan daerahnya. Ada bupati yang punya program ambulans laut, semacam gerakan respon cepat untuk melayani kesehatan masyarakat di pulau-pulau terpencil. Ada juga daerah yang menjemput bola dengan gerai pelayanan terpadu dipulau-pulau yang jauh dari pusat pemerintahan. Semuanya bertujuan untuk mengakselerasi pelayanan publik sehingga lebih mudah dan cepat. Yang menjadi masalah, inovasi tersebut tidak berkelanjutan. Hanya berorientasi proyek saja.

Dalam buku Membangun Indonesia Dari Pinggiran karangan Yusran Darmawan dan kawan-kawan, saya menemukan getirnya kenyataan itu. Denyut nadi masyarakat kepulauan sangat tergantung dari lautan sebagai penopang ekonomi. Tetapi selama ini kita selalu meminggirkan lautan dan tidak menjadikannya sebagai jantung peradaban. Frame kita memandang lautan hanyalah sebatas untuk mengeksploitasinya. Belum pada tataran memperluat nilai tambahnya. Lautan hanya menjadi tong sampah raksasa untuk membuang plastik atau menjadi tempat melempar bom ikan. Padahal lautan telah mengingatkan kita akan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Visi Jokowi tentang Nawa Cita juga menempatkan lautan sebagai marwah bangsa.

Kembali ke awal. Bagi saya, bidan Awanthy laksana Bunda Teresa yang mengabdikan hidupnya untuk kaum papa. Teringat dengan kata-katanya yang menjadi spirit bagi kemanusiaan. Bunda Teresa bilang ”Jika membuat lampu tetap menyala, kita harus mengisi minyak didalamnya. Jika ingin pesan cinta didengarkan, engkau harus menyampaikan ke orang lain”. Salam sehat dan tetap semangat.(**)

Penulis adalah Pemerhati Sosial Budaya dan Isu-isu Politik Lokal Banggai Kepulauan tinggal di Kota Makassar.

Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait