Home » Rubrik » Opini » Kepemimpinan Palsu Itu Menipu
pasang-iklan-atas

Kepemimpinan Palsu Itu Menipu

Pembaca : 37
JPG_1630322662460

Oleh : Hamadin Moh. Nurung

 

Kemarin oleh beberapa kawan, saya diminta untuk menjelaskan bagaimana kepemimpinan yang ideal itu, karena momentum Pemilihan Kepala Desa seperti sekarang ini, isu dan masalah kepemimpinan terbaik selalu menjadi topik percakapan hangat di desa-desa.

Sebagai Prolog dalam setiap diskusi, saya memulainya dengan mengatakan dalam diri setiap pemimpin ada nilai universal yang harus dipegang teguh, dan dihormati oleh mereka setiap pemimpin, yaitu dia memiliki akhlak yang mulia, kepekaan sosial-nya tinggi, selalu memberikan motivasi dan menjadi pelindung masyarakat, memiliki emosi yang stabil, dan mempunyai keterampilan sosial yang dalam dirinya melekat nilai-nilai kebaikan.

Bagi Pemimpin yang mampu melaksanakan nilai-nilai tersebut akan dicintai rakyatnya, itulah pemimpin yang dengan kepemimpinannya membuat ia begitu berwibawa, disegani dan diteladani. Sehingga kata-katanya semacam sabda yang selalu dituruti, ia dipuji karena memang layak untuk dipuji, tanpa perlu meminta dirinya untuk dipuji apalagi mengarahkan orang agar ia dipuji.

Memang ada banyak teori yang menjelaskan tentang kepemimpinan, namun intinya adalah pemimpin itu harus bertanggungjawab memberi ketenangan dan kebahagiaan kepada orang yang dipimpinnya, meski di tengah situasi sulit apapun, dia harus hadir sebagai payung peneduh, dia harus bisa menjadi oase penyejuk, dia harus bisa menjadi matahari pemberi energi, dia harus menjadi obor penerang kepada rakyatnya dan dia harus bisa menjadi jembatan penghubung harapan.

Itulah mengapa dalam memilih pemimpin, saya punya standar dan selera yang tinggi, selera kita boleh saja rendah dalam menyukai sesuatu barang atau benda yang palsu, tapi tidak untuk memilih pemimpin. Apalagi pemimpin dengan kepemimpinan yang palsu, sebab kepemimpinan palsu itu dapat menyeret kita pada kesengsaraan, namanya juga palsu sudah pasti menipu.

Lalu seperti apakah pemimpin dengan kepemimpinan palsu itu.? Pertama, kepemimpinan palsu itu adalah pemimpin yang hanya mepertebal lipstik kemunafikan, itu yang omongannya tidak bisa dipegang, pada saat kampanye bilang A begitu saat memimpin yang dilakukan B, kita terus saja dikibulin, tampangnya saja merakyat kelakukan nya bikin sakit hati.

Kedua, pemimpin yang hanya suka mengklaim sukses kepemimpinan orang lain, namun saat bersamaan dia menghindar dari masalah dengan mengatakan itu akibat dari perbuatan pemimpin sebelumnya, dia lupa atau bisa jadi dia tidak paham bahwa hakekat dari pergantian pemimpin itu adalah karena kita anggap pemimpin terdahulu buruk, sehingga pemimpin baru harus mampu menyelesaikan yang buruk-buruk itu, bukan malah menghindar. Jangan hanya yang enak-enaknya saja yang dinikmati, giliran yang kurang enak eh, malah menyalahakan pemimpin sebelumnya.

Ketiga, pemimpin yang selalu mengeluh kepada rakyatnya untuk minta dimengerti, padahal dia sudah diberi segala macam keistimewaan fasilitas, punya sejumlah pegawai untuk membantu dia menjalankan pemerintahannya. Makanya, saya begitu muak jika pemimpin berbuat kesalahan lalu dikritik, kemudian ada orang yang mengatakan, pemimpin itu manusia juga, yang namanya juga manusia tidak luput dari kesalahan, tapi mereka tidak pernah berfikir apakah ketika pemimpin tersebut mengambil kebijakan yang salah dia pernah pikirkan dampaknya kepada rakyatnya.?

Keempat, selalu minta dipuji, segala apa yang ia perbuat entah baik atau tidak, ia suka dipuji bahkan bila perlu meminta atau membayar media agar ia nampak baik di depan publik, bahkan kadang suka meneteskan air mata di depan rakyatnya, agar ia nampak punya kepekaan terhadap nasib rakyatnya, padahal semuanya hanya air mata buaya. Tapi memang pemimpin dengan model seperti itu pintar membuat drama yang selalu membuat kita terhipnotis, bahkan dramanya mengalahkan drama korea yang selalu digandrungi cewek-cewek dan emak-emak muda, parahnya juga, ia suka menggoda cewek- cewek dan emak-emak muda.

Makanya disetiap diskusi, saya sering mengatakan jika anda cinta dengan pemimpin anda, kritiklah kebijakannya yang menyimpang,! jangan hanya diam, sebab jika ia salah dalam mengambil kebijakan dia akan menciptakan malapetaka bagi kita semua. Pada akhirnya-kan kita sebagai rakyat yang rasakan juga akibatnya, makanya janganlah terus diberi pujian nanti dia bakalan lupa diri. Sebab terlalu mahal ongkos sebuah pesta demokrasi hanya untuk mencari pemimpin terbaik lalu kemudian kita dapati hanya pemimpin lip service dan “makan puji”. Kesadaran demokrasi dan kritisisme kita (rakyat-red) harus tumbuh bersamaan agar manfaat rotasi kemimpinan secara demokratis dapat kita nikmati secara utuh dan bertanggunjawab sebagai pemilik kedaulatan. Karennya, kita wajib marah kepada pemimpin yang menghianati kita.

Memang tak dapat dipungkiri, ada juga pemimpin yang cenderung punya watak suka dipuji (makan puji-red), sehingga terbuai dan lupa akan kewajibannya, saking terbiasanya dia dipuji dia jadi alergi dengan kritikan, dia menganggap mereka yang mengkritik itu sebagai musuh yang selalu mencari-cari kesalahannya. “Mereka itu lagi sakit hati karena kalah dalam kontestasi politik, atau mereka lagi minta perhatian karena ada sesuatu yang diinginkan, atau mereka itu mengaku-ngaku sebagai rakyat, rakyat yang mana?” kata-kata itulah yang sering muncul setiap kali merespon kritik yang disampaikan oleh rakyatanya. Padahal kritik itu semacam suplemen untuk menambah nutrisi otaknya, agar akal sehatnya selalu berfungsi normal. Sehingga disetiap kali mengambil kebijakan dia senantiasa bersikap hati-hati dan selalu mengambil kebijakan yang terbaik kepada kita.

Parahnya lagi, jika para sengkuni telah berkerumun dilingkaran kekuasaan yang merupakan kroni-kroninya, lalu menjadi penasehat, dengan watak bawaan terus saja memuji biar salah yang dilakukan oleh pemimpin, terus saja diacungin jempol, kerjanya selalu memberikan bisikan yang penting Asal Bapak Senang, bahkan menghasut agar orang-orang yang memberi kritik dipersekusi bila perlu dihabisi.

Itulah mengapa Sayyidina Ali bin Abi Talib dengan bijaknya, memberikan kita nasehat yang meneduhkan “Lebih baik mendengarkan musuh yang bijak daripada meminta nasihat dari teman yang bodoh”.

Oleh karena itu, jika mau jadi pemimpin jadilah pemimpin yang amanah dan pemimpin yang senantiasa berusaha memberikan yang terbaik bagi rakyatnya, sebab jika pemimpin itu berbohong apa lagi membuat kebijakan yang membuat kesengsaraan bagi rakyatnya, dia pasti kehilangan kepercayaan dan itu sangat berbahaya bagi pemerintahanya. Seperti ungkapan, Abraham Lincoln Negarawan dan Presiden Amerika ke 16, “Jika Anda pernah kehilangan kepercayaan dari sesama warga Anda, Anda tidak pernah bisa mendapatkan kembali rasa hormat dan harga diri mereka. Anda mungkin menipu semua orang beberapa waktu, Anda bahkan bisa menipu beberapa orang sepanjang waktu, tetapi Anda tidak bisa menipu semua orang sepanjang waktu”.

“Memang menjadi pemimpin itu susah karena tanggungjawabnya besar dan berat, kalau hanya sekedar mau mencuri uang rakyat, membangun dinasti keluarga, atau hanya sekedar gagahan atau hanya sekedar naik level status sosialnya, atau hanya sekedar menambah daftar curiculum vitae mending buang jauh-jauh niat itu, kasihan rakyat nanti tambah melarat” canda saya kepada mereka.

Diakhir diskusi, saya menutupnya dengan mengatakan, jadi yang palsu-palsu itu selalu menipu mata, seperti benda palsu yang mereknya mahal harganya murah, tampilanya mewah dan berkelas tapi isinya mengecewakan, jadi jangan mudah tertipu dengan penampilan, sebab penampilan bukan jaminan bahwa dia bisa diandalkan dan dibanggakan.

Kita boleh punya selera yang rendah dalam menyukai barang dan benda palsu tapi dalam memilih pemimpin selera kita mestinya yang limited edition, walaupun kita miskin dan melarat tapi dalam hal memilih pemimpin seleranya kita harus berkelas. (**)

Penulis adalah Wakil Pemimpin Redaksi/Redaktur ALAIMBELONG.ID

Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait