Home » Rubrik » Opini » Masker (Topeng)
pasang-iklan-atas

Masker (Topeng)

Pembaca : 1
IMG_20210709_171122_054

Oleh : Hasdin Mondika

 

Film The Mask yang pernah tayang dan beredar tahun 2016 menceritakan tentang seorang pegawai bank bernama Stanley Ipkiss (Jim Carrey). Awalnya ia adalah seorang pria biasa yang cenderung menjadi pecundang di lingkungannya karena sering menghadapi tekanan dari sekitarnya. Apalagi, ia sedang jatuh cinta dengan seorang wanita cantik (Cameron Diaz), namun tidak sanggup menggapainya.

Di tengah keputusasaan hidup, secara tidak sengaja ia menemukan topeng keramat peninggalan Dewa Loki yang diusir oleh Dewa Odin, dan jika ia memakai topeng tersebut, maka kepribadiannya akan langsung berubah. Stanley menjadi seseorang aneh yang memiliki wajah berwarna hijau. Saat ia tidak memakai topeng tersebut ia adalah orang yang sangat baik. Tetapi saat mengenakan topeng ia justru menjadi orang yang berantakan dan juga mempunyai kekuatan yang aneh. 

Film The Mask ini akhirnya menjadi insipirasi Lembaga-lembaga besar dunia beserta para dalang dibelakangnya. Sebut saja World Healt Organization (WHO), dengan diluncurkannya pandemi Covid 19 yang mulai beredar di Wuhan, China pada tahun 2019 lalu, maka pemakaian topeng (masker) tidak lagi terjadi di dalam film, drama, komedi, legenda-legenda tapi telah terjadi di dunia nyata. Video-video tentang kematian yang diakibatkan oleh virus Covid 19 yang dimulai dari Wuhan, Italia dan seterusnya dengan begitu cepat menyebar ke 188 negara. Orang-orang dibuat takut, cemas, malu dan aib tentang adanya penyakit virus corona yang pada akhirnya dapat memporak-porandakan banyak sektor kehidupan umat manusia di seluruh dunia.

Dengan mulai beredarnya virus Covid 19 ini, maka seluruh media mainstream termasuk yang ada di Indonesia begitu gencar memberitakan penyebaran Covid 19 ini dengan penuhnya rumah sakit-rumah sakit akibat banyaknya orang yang tertular. Di samping ada pasien yang sembuh, banyak juga pasien yang meninggal akibat Covid 19 ini. Kabar baik dari adanya Covid 19 ini di seluruh rumah sakit seperti di Indonesia, penyakit-penyakit kronis lainnya yang membuat orang sakit atau meninggal, menghilang atau tidak lagi diberitakan. Penyakit seperti TBC, Paru-paru, Lambung, DBD, Jantung, Diabetes, gula dan lain-lain semuanya menghilang dan tidak lagi diberitakan karena yang ada hanya tinggal satu jenis penyakit yang buat heboh dan sangat layak diberitakan yaitu penyakit akibat terpapar virus Covid 19. Sebuah kelucuan jungkir balik yang membuat akal sehat tidak lagi berfungsi, tapi ini terjadi dibanyak negara termasuk di Indonesia, dan anehnya ketidakwarasan ini terus berlanjut sampai memasuki tahun yang ke ketiga.

Untuk menangkal penyebaran Covid 19, WHO sebagai actor utama dari permainan ini memberikan tips yang di Indonesia dikenal dari 3 M Sampai 5 M. yang paling sering kita kenal adalah 3 M. Menjaga jarak, Mencuci tangan dan Memakai Masker. Nah memakai Masker (Topeng) ini yang dulunya cuma ada dalam film atau drama saat ini sudah hampir tiga tahun lamannya ada di dunia nyata. Jika dulu pemerintah Indonesia nyinyir dan hampir melarang orang-orang untuk bercadar karena dianggap teroris, maka sekarang teroris telah menyebar dimana-mana dan diaggap orang baik. Karena mereka taat Protokol Kesehatan dengan memakai masker, apalagi ditambah topi atau tutup kepala maka makin tidak jelaslah identitas orang tersebut jika berada di keramaian. Sementara orang yang tidak memakai masker atau topeng saat ini mereka dianggap orang jahat karena bisa membahayakan orang lain, karena bisa berakibat terpaparnya virus sehingga layak untuk mendapatkan hukuman. Memang dunia sedang benar-benar dalam kondisi jungkir balik.

Masker (Topeng) sudah hampir tiga tahun mendapatkan posisi yang istimewah di tengah-tengah masyarakat. Masker (Topeng) telah banyak merubah perilaku, plus menolong masyarakat. Banyak kepalsuan, ketidakpercyaan diri, kegetiran hidup dan bahkan kebohongan itu sendiri dapat tertutupi dari adanya Masker/ Topeng.

Setelah tiga tahun berjalan, yang pada mulannya masyarakat menolak atau bahkan kerepotan untuk memakai masker, saat ini masyarakat telah terbiasa dan bahkan masker telah menjadi trand di masyrakat. Orang yang sedang berjalan atau berada ditempat umum lalu tidak pakai masker sudah pasti orang tersebut akan tersisihkan. Karena dianggap tidak taat prokes, bandel dan sebagainya.

Pada perkembagannya penggunaan masker (topeng) telah bergeser dari dari tujuan semula yaitu tujuan kesehatan seperti yang dianjurkan WHO, ke tujuan-tujuan lain yang menurut pengamatan penulis hal ini juga bisa membantu banyak orang untuk menutupi hal-hal yang mungkin harus ditutupi. Misalnya, jika ada orang yang merasa minder jika berada  dikeramaian, atau sering merasa diamati oleh orang banyak jika sedang berjalan, maka dengan adanya masker maka rasa minder atau malu itu akan tertutupi dengan wajahnya yang tertutup oleh masker. 

Selanjutnya maaf, bagi orang yang sudah tua, kurang tampan kurang cantik atau hidung sedikit masuk kedalam, wajah bopeng-bopeng dan seterusnnya disinilah masker (topeng) sangat membantu seratus persen. Karena dengan  memakai masker dengan hanya bola mata yang kelihatan, maka orang-orang akan terlihat lebih mudah, lebih tampan, cantik dan seterusnya. Karena itu, berterimakasih-lah kepada WHO dan kepada Pemerintah yang telah mewajibkan pemakaian Masker (Topeng). Dan marilah kita berharap agar pemakaian masker ini terus di perpanjang di tahun-tahun mendatang karena memang diakui telah membantu banyak orang, sekaligus merubah perilaku manusia normal. (**)

Penulis adalah Pimpinan Yayasan Noa Moloyos.

Share :
Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Home » Rubrik » Opini » Masker (Topeng)

Masker (Topeng)

[update-viewer]
Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *