Home » Rubrik » Opini » Mati Rasa
pasang-iklan-atas

Mati Rasa

Pembaca : 2
20210817_123701

Oleh : Hamadin Moh.Nurung

 

Tahukah anda apa itu “Mati Rasa?” Bagaimana jika anda merupakan salah satu korban dari Mati Rasa,? lalu Apa yang anda rasakan?

“Mati Rasa” adalah istilah gaul anak-anak muda generasi zaman now yang menunjukan kata sifat, seperti tidak punya perasaan, tidak punya hati, tidak peka, tidak peduli atau sifat tega yang ditujukan kepada seseorang yang suka menyakiti perasaan orang lain.

Seperti seorang gadis yang mencintai lelaki kekasihnya dengan sepenuh hati, mengorbankan segalanya yang ia punyai, semua dilakukannya atas nama cinta, namun akhirnya cinta-nya dibalas dengan pengkhianatan. Sikap yang dilakukan kekasihnya itu menunjukan sikap tega atau tidak memiliki perasaan, tidak memiliki empati begitu kira-kira perumpamaan dari istilah “Mati Rasa.”

Sejak Coranavirus Disease tahun 2019 (Covid-19) mewabah dan menjadi pandemi, banyak orang yang kehilangan indera perasa hingga Mati Rasa.

Para ahli mengatakan bahwa kehilangan indera perasa adalah salah satu gejala terinfeksi Covid-19, efeknya adalah organ perasanya tidak lagi berfungsi sehingga apapun makanan yang dimakan semua tidak lagi memiliki rasa.

Jika kehilangan indera perasa adalah gejala terinfeksi Covid-19, maka dampak yang ditimbulkan oleh pandemi dapat mempengaruhi psikologis, dimana banyak orang mengalami kecemasan yang luar biasa dan memicu tingkat stress yang lebih berat.

Dikutib dari BBC.com (6/11/2020) Steven Taylor, penulis The Psychology of Pandemics, dan Profesor Psikiatri di University of British Columbia, berpendapat bahwa “untuk 10 hingga 15% minoritas yang malang, hidup tidak akan kembali normal” karena dampak pandemi pada kesejahteraan mental mereka. Hal yang sama juga diungkap oleh Australia’s Black Dog Institute, sebuah organisasi penelitian kesehatan mental independen terkemuka, juga menyuarakan keprihatinannya tentang “banyaknya minoritas yang akan terpengaruh oleh kecemasan jangka panjang.”

Di Inggris, kelompok spesialis kesehatan masyarakat dalam British Medical Journal memperingatkan bahwa dampak pandemi terhadap kesehatan mental kemungkinan akan bertahan lebih lama daripada dampak kesehatan fisik.

Selain dampak Psikologis, dampak lain yang muncul adalah banyaknya masyarakat kelas menengah ke bawah, yang harus menjerit akibat adanya pembatasan sosial masyarakat sebagai dampak dari kebijakan pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus. Bahkan binatang pun ikut terkena dampak. Seperti berita yang dilansir Kompas.com (28/7/2021) yang mengabarkan terjadinya bentrok dua geng monyet di Kota Lop Buri, sebuah kota di Timur Laut Thailand, yang merupakan salah satu objek wisata di kota itu. Dimana tempat itu menjadi rumah bagi ribuan monyet dan menjadi ikon pariwisata, namun ketika perbatasan diberlakukan dan parawisata ditutup karena pandemi Covid-19, monyet-monyet itu dilaporkan menjadi ganas tanpa pasokan makanan dari manusia, terutama dari para turis.

Mati Rasa

Dengan dalil memberi perlindungan warga negara, Pemerintah menerapkan kebijkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, kebijakan tersebut membatasi aktifitas masyarakat dari urusan kumpul-kumpul bareng teman dan keluarga sampai pada aktifitas ekonomi bahkan ritual keagamaan.

Akibat dari kebijakan tersebut banyak sektor yang terkena dampak, banyak orang kehilangan pekerjaan, rakyat kecil menjerit, usaha-usaha banyak yang tutup.

Namun di tengah upaya pemerintah memberi perlindungan kepada warga negaranya, dan ditengah ketidakpastian kapan pandemi ini berakhir, ditengah kecemasan masyarakat dalam menghadapi situasi sulit, ditengah banyak masyarakat mengkhawatirkan nasibnya kedepan, ditengah kebingungan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, ditengah para pekerja kebingungan mencari kerja.

Kita dikagetkan dengan berita dicokoknya Menteri Sosial Juliari Pieter Batubara karena mencuri dana Bantuan Sosial Covid-19, dalam giat Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Belakangan dalam pledoi atau nota pembelaannya, dirinya meminta kepada Majelis Hakim Yang Mulia, untuk mengakhiri penderitaannya dan keluarganya serta membebaskannya dari segala dakwaan.

Kita juga dipertontokan dengan masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) dari Cina dan itu dilakukan berkali-kali, meskipun pemerintah berdalih bahwa sudah sesui dengan aturan, tetapi kebijakan tersebut seolah memberi keistimewaan kepada warga Asing daripada warga Pribumi.

Kita juga disuguhkan berita, bagaiman para politisi kita minta perlakuan istimewa, menyediakan fasilitas khusus berupa hotel bintang 3 bagi para anggota legislator hingga staf yang tengah menjalani isolasi karena terpapar Covid-19, disaat banyak masyarakat kesusahan mendapatkan fasilitas kesehatan dan isolasi mandiri.

Kita juga masih melihat ada pejabat dan politisi kita yang masih pamer kesenangan mereka, makan direstoran mewah, berbelanja dishopping, tidur di hotel mewah, dan bentuk kesenangan serta hobi lainya yang menunjukan sikap euforia dan hedonis yang diposting di sosial media disaat rakyat menjerit kelaparan, dan masih banyak contoh lain yang menunjukan sikap betapa tidak empatinya mereka.

Seperti menyiram cuka di atas luka yang menganga, Watak pejabat dan politisi tersebut telah melukai rasa kemanusiaan, disaat masyarakat sengsara dan harus berjuang agar tetap survive, justru mereka masih sibuk dan asik dengan dirinya sendiri, inilah yang saya sebut dengan sikap “Mati Rasa.” Sehingga wajar kiranya jika masyarakat menaruh rasa kurang percaya bahkan melakukan protes.

Mungkin itu juga yang membuat Deka Sike, seniman Mural di Kabupaten Tangerang yang meluapkan ekspresi kekecewaannya di dinding Tembok pinggir Jalan Raya Arya Santika, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang yang viral di sosial media, dengan Tulisan besar ” Tuhan Aku Lapar “, meskipun pada akhirnya dia harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Dalam keadaan seperti ini, mestinya tali ikatan kesetiakawanan harus diperkuat, kepekaan harus dipertajam, semangat solidaritas mestinya dihidupkan, kegotongroyongan yang merupakan keistimewaan dari kearifan lokal bangsa harus digelorakan, agar kita tetap bersatu, karena hanya itu kita bisa memenangkan perang melawan pandemi dengan segala macam dampak yang ditimbukan.

Jika tidak, bukan tidak mungkin kita sama sama Kehilangan kepekaan, kehilangan kepedulian, kehilangan simpati dan bersama kita “Mati Rasa” yang membuat kita menjadi zombi, saling memangsa, atau bahkan kita akan menyaksikan para gladiator bertarung bebas demi tetap bertahan hidup, seperti bentrok geng monyet di Thailand karena berebutan makanan. Semoga saja itu tidak terjadi.

Banggai Laut, 17 Agustus 2021.

Penulis adalah Wakil Pemimpin Redaksi/Redaktur ALAIMBELONG.ID

Share :
Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Home » Rubrik » Opini » Mati Rasa

Mati Rasa

[update-viewer]
Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *