Home » Rubrik » Opini » “MBUOMBUOL” Kearifan Lokal Yang Berbudaya (Bagian II dari III Tulisan)
pasang-iklan-atas

“MBUOMBUOL” Kearifan Lokal Yang Berbudaya (Bagian II dari III Tulisan)

Pembaca : 20
IMG_20210801_101102_100

(Koreksi atas tulisan Sutrisno Bandu; Dari Kearifan Lokal yang Berbudaya hingga Pengelolaan Potensi Perikanan Daerah)

Oleh : Fatharany Berkah Abdul Barry

Setelah kita mengetahui variabel dan indikatornya, lantas bagaimana cara paling simpel mengenali eksistensi dari kearifan lokal itu.? Para pakar menyebut, sebagai sistem budaya yang berfungsi bagi keberlangsungan hidup kolektif masyarakat setempat, maka kearifan lokal menjadi simbol jati diri dari kekuatan akal (kreatifitas), potensi rasa keindahan, keluhuran sikap dan perilaku (moralitas), dan ketinggian nilai spiritual (religius) masyarakat. Dan itulah simbol mental yang arif dari masyarakat setempat. Dengan kata lain, eksistensi kearifan lokal tercermin melalui cara pandang (pikiran) dan perilaku (tindakan) atau dalam bahasa kita sehari-hari disebut “kalakuan” pribadi maupun kolektif masyarakat setempat dalam interaksi sosialnya, baik di lingkungan internalnya maupun di lingkungan eksternalnya.

Jadi, bila suatu masyarakat seperti kita, masyarakat adat Banggai misalnya, saat ini dinilai sudah berubah mentalnya, mungkinkah kita disebut sudah tidak arif lagi dengan lingkungan kita, atau di antara kita tidak lagi memfungsikan sebagian dari local genius dalam kehidupan sosial keseharian kita, karena dianggap tidak lagi relevan dengan zaman, atau karena memang sistem pelembagaan nilai-nilai budaya kita yang lemah dan rapuh. Sehingga kita mengalami Culture Shock seperti yang disebutkan oleh Calervo Oberg (1960), dimana kita seolah merasa asing di rumah sendiri. Inilah seharusnya yang menjadi bahan renungan kita dalam menyusun kembali platform pembangunan daerah yang berkarakter Banggai.

B. Koreksi Tulisan

Tulisan utus Sutrisno Bandu, bila kita baca pesannya sesungguhnya merupakan counter atas tulisan utus Hamadin Muh.Nurung dan lebih spesifik tulisan Hasdin Mondika. Bagi penulis sikap ini merupakan langkah maju dari perdebatan-perdebatan tematik tentang konsepsi kearifan lokal yang berbudaya, karenanya penulis memberikan apresiasi. Sebab apa yang dilakukan oleh utus Sutrisno Bandu dengan mendebat pikiran lewat tulisan dengan tulisan, merupakan cara yang bermartabat sebagai seorang cendekia. Berbeda halnya dengan sikap rekannya, Rahmad Ibaad yang hanya bisa berceloteh liar tanpa bentuk di akun sosial facebook.

Meski demikian, keduanya sama-sama memiliki kesamaan yaitu kurang gentle dalam menyerang pikiran lawan debatnya. Contoh kecil, baik Rahmad Ibaad maupun Sutrisno Bandu tidak berani menyebut secara terang, nama oknum dari pihak yang di counter pikirannya. Mereka berdua hanya menunjuk dengan kata seseorang, dia atau anda. Padahal di dalam perdebatan intelektual, menyebut nama dan saling menyerang serta mengolok-olok pemikiran itu lumrah dan etis, sepanjang tidak menyerang privasi dan fisiknya. Artinya, pemikiran dibalas dengan pemikiran, tulisan dibalas dengan tulisan.

Lihat,! bagaimana Ibnu Rusyd mengkritik Tiga kerancuan berfikir Al-Ghazali melalui bukunya Tahafut al-Tahafut (Kekacauan dalam Kekacauan) sebagai antitesa dari buku Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Pemikiran Para Filsuf). Kritik Ibnu Rusyd tersebut merupakan pembelaan atas serangan pengkafiran dari Al-Ghazali terhadap Al Farabi dan Ibnu Sina yang pemikirannya berbau Aristotelian. Secara jelas, Al-Ghazali menyebut nama Al Farabi dan Ibnu Sina, demikian juga Ibnu Rusyd, menyebut nama Al-Ghazali dalam bukunya, sebelum kemudian dia mempreteli poin-poin pemikiran Al-Ghazali.

Pada bagian ini, penulis akan mengoreksi beberapa hal dari perspektif utus Sutrisno Bandu, yang menurut penulis perlu dikoreksi.

Pertama, utus Sutrisno Bandu menilai bahwa tulisan Hamadin dan Hasdin tentang kearifan lokal yang berbudaya sebagai sorotan atas platform Bupati Sofyan Kaepa terkesan “sepihak atau tidak objektif” (lihat : paragraf 5), namun sayangnya, ia tidak menunjukkan bagian-bagian mana dari tulisan Hamadin Moh. Nurung atau Hasdin Mondika yang tidak objektif itu.

Apakah tulisan utus Sutrisno Bandu dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan imajiner Hamadin Moh.Nurung dalam catatannya, yang mengaku bingung karena belum menemukan akar pemikiran kearifan lokal yang berbudaya ala Bupati Sofyan Kaepa maupun tim suksesnya,? tidak jelas.

Demikian juga, terkait tulisan Hasdin Mondika, pada bagian mana, teori dan argumentasi, ciri dan sampel dari kearifan lokal yang dikemukakan Hasdin yang keliru,? atau rekomendasi mana yang tidak bersesuaian dengan kebutuhan dari proses aktualisasi visi kearifan lokal yang berbudaya itu,? sehingga perlu dijawab dan diluruskan, juga sumir.

Karena menyoal subjektifitas dan objektifitas dalam interpretasi ilmiah, Emilio Betti, tokoh pemikir hermeneutika dalam General Theory of Intepretation, mengatakan bahwa tugas seorang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan, dan mengerti, yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi. Ia juga harus merumuskan sebuah metodologi yang akan dipergunakan untuk mengukur seberapa jauh kemungkinan masuknya pengaruh subjektivitas terhadap sebuah interpretasi objektif (Sumaryono,1999:31).

Kedua, utus Sutrisno Bandu mencoba menarik relasi antara kearifan lokal Banggai sebagai akar filosofi (subjek) dan pengelolaan sumber daya kelautan (objek) dari platform kearifan lokal yang berbudaya. Namun karena terbatasnya ia dalam memahami esensi dari konsep dasar kearifan lokal Banggai, ia kemudian keliru menyusun silogisme yang relete  antara kearifan lokal Banggai dengan konsep pengelolaan sumberdaya perikanan.

Upaya utus Sutrisno Bandu untuk menjelaskan secara makro potensi SDA Perikanan, mulai dari luas wilayah Perairan Banggai Laut sampai pada signifikansi produksi perikanan tangkap dalam bentuk angka-angka statistik, yang ironisnya tidak ditunjang dengan infrastruktur pendukung. Jelas bias dan tak menjawab akar pemikiran dari konsepsi kearifan lokal yang berbudaya, yaitu kearifan lokal Banggai yang diperdebatkan.

Jika utus Sutrisno Bandu meminta difahami bahwa kearifan lokal yang berbudaya sebagai sebuah “cita-cita akan masa depan masyarakat Banggai Laut yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah saat ini,” tentu saja sangat dimengerti, tetapi apakah cita-cita itu tak berbasis pada kebijaksanaan masa lalu,? itu soalnya.

Apakah kearifan lokal (local genius) yang menjadi subjek (akar pikiran) dari platform Bupati Sofyan Kaepa itu belum ada dan baru akan diciptakan, karena dia baru berupa cita-cita,? atau sudah ada,? kalau sudah ada, yang mana kearifan lokal Banggai yang diambil sebagai basisi pikiran dari platform itu,? yang nafasnya (nilai-nilai) kebanggaianya ditiupkan di dalam jiwa platform tersebut. Apakah tradisi “Malabot Tumbe” seperti yang utus (saudara-red) sebutkan,? tentu saya katakan keliru, jika tradisi Malabot Tumbe utus sebut sebagai akar pemikiran dari pengelolaan sumberdaya perikanan kita. (Bersambung)

Penulis adalah Pemimpin Redaksi ALAIMBELONG.ID dan Pemerhati Budaya Banggai.

Share :
Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Home » Rubrik » Opini » “MBUOMBUOL” Kearifan Lokal Yang Berbudaya (Bagian II dari III Tulisan)

“MBUOMBUOL” Kearifan Lokal Yang Berbudaya (Bagian II dari III Tulisan)

[update-viewer]
Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *