Home » Rubrik » Opini » Panggung Belakang Politik dan Mimpi Kesejahteraan
pasang-iklan-atas

Panggung Belakang Politik dan Mimpi Kesejahteraan

Pembaca : 11
IMG_20210914_114812_492

Oleh : Supriatmo Lumuan

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sejatinya adalah upaya Negara menghadirkan demokrasi sebagai suatu mekanisme di dalam mengatur sirkulasi elit secara baik dengan memberi mandate kepada Publik (masyarakat yang memenuhi ketentuan untuk memilih) untuk menentukan secara mutlak kepada siapa mandate itu diarahkan. Konsekuensinya adalah public betul-betul memiliki kekuasaan yang sangat kuat di dalam kepemimpinan suatu negeri karena merekalah satu-satunya penentu kepada siapa kekuasaan itu mereka berikan.

Setiap momentum kontestasi politik issue kesejahteraan menjadi issue sentral yang diperbincangkan, bukan hanya sebagai sebagai orang yang berkepentingan didalam upaya merebut kekuasaan tetapi public sebagai daya tarik untuk menjatuhkan pilihan mereka didalam Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Setiap debat public dan panggung-panggung kampanye yang dilaksanakan oleh para kontestan. Kesejahteraan seakan menjadi kata pamungkas untuk mengakumulasi daulat rakyat. Pertanyaaan kritisnya apakah ketika daulat rakyat itu dalam genggaman, mimpi kesejahteraan itu terwujud,? faktanya sebagian besar mimpi kesejahteraan itu hanya ada dalam pikiran dan ucapan para kandidat serta tebalnya Visi-Misi yang disusun dengan indah, namun tidak faktual didalam kehidupan masyarakat. Cerita kesejahteran hanya diproduksi di atas panggung depan politik kita sebagai pemanis dan perekat dukungan electoral public dalam upaya merebut kekuasaan. Lalu pertanyaan berikut, apa yang salah soal issue kesejahteraan yang hanya sampai pada ucapan dan tebalnya Visi-Misi, namun tidak factual terhadap public,? jawabannya adalah karena tidak sesuainya tampilan panggung depan politik kita dengan panggung belakangnya.

Faktanya kita sering menemukan di dalam setiap kontestasi politik kita dimana terjadi kesenjangan antara tampilan panggung depan politik yang diisi dengan argumentasi yang konstruktif soal kemajuan dan kesejahteraan serta setiap kandidat mempertontonkan kesholehan politik dan sosiologisnya kepada public,  namun di panggung belakang politik mereka mengisi dengan perilaku destruktif seperti membajak daulat rakyat dengan kekuatan uang. Bagaimana mungkin kita memimpikan kesejahteraan itu mewujud dalam kehidupan masyarakat sementara panggung belakang kontestasi politik kita diisi oleh perilaku yang justru menjaukan cita-cita kesejahteraan itu terwujud.

Panggung belakang politik menggambarkan apa yang disebut oleh Prof. Anwar Arifin Andipate sebagai Black Market (Pasar Gelap) dimana terjadi transaksi atau upaya ‘Merayu’ Publik dengan kekuatan uang untuk merebut kekuasaan. Adigium yang pernah disampaikan oleh Alquin dari zaman Yunani bahwa vox populi vox dei sebagai bentuk kesakralan suara rakyat di dalam demokrasi dibajak oleh para elit dengan membeli suara- suara yang dianggap sebagai suara Tuhan itu dengan kekuatan uang. Black market telah menghiasi panggung belakang politik kita dalam setiap kontesasi. lapangan politik kontetasi bukan jadi ladang dipertarungkannya ide dan gagasan yang paling baik dan rasional, namun mempersiapkan sebanyak mungkin uang untuk membarter pilihan rakyat dengan uang, Visi-Misi seakan-akan hanya sebagai pelengkap administrasi politik kandidat sebagai syarat pencalonan.

Panggung-panggung kampanye ibarat panggung sandiwara yang mempertontonkan kesholehan dan cita-cita mulia merebut kuasa rakyat, namun di belakang panggung kampanye mereka mengkhianati nilai-nilai kesholehan tersebut. Terlalu banyak contoh untuk menjelaskan potret panggung belakang politik kita yang membuat banyak public geleng-geleng kepala, salah satu contoh paling nyata betapa banyak Kepala Daerah yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) karena terlibat korupsi, dan yang menarik kalau kita amati banyak dari kasus korupsi para pemimpin daerah itu melibatkan pemilik modal (pengusaha) yang memiliki relasi saat sang kepala daerah maju dalam kontestasi politik.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah kita mampu mewujudkan kesejahteraan dalam setiap kontesasi politik,? jawaban bisa selama kita mampu membereskan panggung belakang politik kita. Menurut saya penyebab utama kenapa sangat sulit kesejahteraan itu mewujud dalam kehidupan di negeri ini karena kita tidak mau membereskan panggung belakang politik kita, karena disanalah muara dari sengkarut terjalnya jalan kesejahteraan yang kita impikan. Kadang kita ingin menyelesaikan masalah tetapi kita hanya mau menyelesaikan sesuatu yang bukan menjadi akar masalah sehingga kita terus mengulangi kesalahan. Potret kemiskinan yang terus mengangga, banyaknya korupsi kepala daerah bahkan kasus yang lagi hangat adalah jual beli jabatan Pj. Kades di Kabupaten Probolinggo menunjukkan ada something is wrong dari kontestasi politik yang telah melahirkan para pemimpin yang tidak amanah. Kita sering mengkritik realitas kepemimpinan kita yang bermasalah dan itu terus berulang kita lakukan. Setelah selesai kontestasi politik kita bermai-ramai memuji-muji pemenang kontestasi sembari menyematkan harapan kesejahteraan namun dalam perjalanannya waktu kita menemukan realitas yang berbeda bahkan bertolak belakang dengan keinginan public untuk mewujudkan sejahtera itu lahir di dalam rumah-rumah rakyat.

Kontesasi politik (Pilkada-red) seakan sebagai ajang secara periodik (5 tahunan ) kita mengulangi kesalahan bersama karena sejahtera hanya ada dalam ucapan dan tebalnya visi-misi. Penyebabnya adalah kita salah mendeteksi masalah yang sesungguhnya. Saya menganalogikan untuk mewujudkan sejahtera hanya mengkritik kekuasaan tanpa memperbaiki panggung belakang politik kita seperti luka bagi penderita diabetes kalau kita hanya focus menyembuhkan lukanya pasti tidak akan sembuh bahkan akan diamputasi, jalan terbaiknya adalah sembuhkan diabetesnya, maka lukanya akan sembuh.

Kadang kita ingin melakukan perubahan namun kita tidak tepat didalam mendiagnosa penyebab kenapa perubahan dan sejahtera itu tidak factual dalam kehidupan masyarakat. Kita hanya mempersoalkan sesuatu yang hanya berada dipermukaan dan tidak aktual-empirik. Kita lupa bahwa di dalam semua sendi kehidupan kita politik adalah komponen yang sangat dominan menentukan baik buruknya. Pemerintahan, pendidik, hukum, kesehatan dan semua sendi kehidupan bernegara kita. Apa yang disampaikan oleh Aristoteles bahwa politik adalah hulunya segala ilmu, kalau politiknya baik maka diakan mengairi semua secara baik namun kalau politiknya rusak maka diakan mengairi semau sendi kehidupan dengan buruk pula.

Memperbaiki politik sama dengan kita sedang memperbaiki semua sendi kehidupan masyarakat, karena dengan politik yang baik pemerintahan berkualitas, pendidikan bagus, kesehatan berkualitas, hukum tegak, pembangunan infrastruktur berkeadilan dan tentu sejahtera hadir di dalam rumah-rumah setiap warga. Jalan memperbaiki kualitas kontestasi politik kita adalah membereskan panggung belakang politik dari pasar gelap politik dan membereskan panggung belakang politik kita adalah cara paling rasional menghadirkan sejahtera bagi masyarakat. (**)

Penulis Adalah Ketua Bawaslu Kabupaten Banggai Kepulauan Periode 2018-2023

Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait