Home » Rubrik » Opini » Penentuan Tempat Munas KAHMI Dalam Nuansa “HMI”
pasang-iklan-atas

Penentuan Tempat Munas KAHMI Dalam Nuansa “HMI”

Pembaca : 126
20220223_123614

Oleh : Hasdin Mondika

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi kemahasiswaan dan Pemuda yang di dirikan oleh Prof. Lafran Pane dan kawan-kawan pada 5 Ferbruari 1947 adalah salah satu organisasi terbesar dan tertua di republik ini. Hanya berjarak dua tahun dengan usia kemerdekaan Indonesia yang di Proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. HMI pada bulan Feberuari ini sedang merayakan Dies Natalis ke 75 yang puncak perayaanya dilaksanakan pada tanggal 19 pebruari di Puri Begawan Bogor, Jawa barat yang langsung dihadiri oleh Presiden Ir. Joko Widodo.

Sebagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan tertua plus terbesar, kiprah dan sepak terjang HMI telah banyak mewarnai pergerakan kemahasiswaan dan kepemudaan di Indoenesia. Tidak sampai disitu, bahkan keputusan-keputusan penting dan strategis menyangkut ke keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara ikut diwarnai dan peran besar para pentolan HMI. Sebut saja mulai dari kebijakan NKK BKK, Azas Tunggal Pancasila, G 30 S PKI, Malari, Tragedi Tanjung Priuk, Tragedi Mei 1998 dan banyak lagi peristiwa penting di republik ini yang dimotori oleh pentolan-pentolan HMI.

Memang ide dasar dari berdirinya organisasi ini adalah berbasis akademik. Karena organisasi ini tidak merekrut sembarang orang. Hanya mahasiswa-lah yang bisa menjadi Anggota dan Pengurus HMI. Seperti dalam Pasal 5 Anggaran Dasar HMI disebutkan “terbinanya insan akademis, pencipta pengabdi yang bernafaskan Islam dan di ridhoi oleh Allah SWT”. Dengan dasar pijakan akademis tersebut maka gerakan HMI adalah dikampus-kampus. Gerakan HMI adalah perkaderan yang harus terus mengalir tidak pernah kering. Gerakan HMI sejatinya adalah membangun manusia terlebih dahulu sebelum beranjak ke pembangunan yang lain.

Dalam perkembangannya gerakan HMI seakan keluar dari garis orbitnya. Gerakan HMI yang seyognya berkutat pada gerakan pemikiran seperti diskusi, seminar, karya ilmiah, menulis buku, gerakan literasi sampai pada tulisan opini yang menyebar mulai dari koran lokal sampai nasional telah bergeser kearah gerakan aksi. Gerakan pemikiran yang mulai dibangun Cak Nur di era tahun 70-an mulai tergerus setelah gerakan reformasi tahun 1998, pergerakan HMI banyak diwarnai dengan pergerakan aksi seperti demonstrasi, boikot dan blokir. Khalayak ramai mulai mengenal HMI ketika ada demonstrasi, Bentrok dengan polisi, ramai penentuan tempat Kongres sampai banyaknya bondo nekat (penggembira Kongres) plus keributan dan molornya waktu Kongres.

Namun dibalik hal-hal yang menyimpang dari nuansa akademik tersebut masyarakat masih mahfum bahwa HMI bukan saja kumpulan mahasiswa dan mahasiswi tapi juga kumpulan pemuda dan pemudi. Nah dengan kumpulan pemuda inilah terkadang HMI sering menabrak aturan dan norma yang menurut versi penguasa adalah kebenaran namun menurut versi HMI adalah kezaliman yang harus dilawan. Sehingga tidak jarang kita melihat HMI atau Alumni HMI bersama masyarakat yang hak-haknya dirampas harus turun aksi kejalanan walau terkadang harus bentrok dengan aparat yang berujung aktivis HMI harus babak belur, ditangkap aparat dan bahkan kehilangan nyawa seperti Almarhum Amir Biki dan A.M Fatwa dalam tragedi Tanjung Priuk 12 September 1984. Disisi lain, dengan banyaknya Alumni HMI yang berkiprah diberbagai sektor mulai dari pemerintahan, lembaga politik, BUMN dan lembaga profesional lainnya seakan menutupi kekurangan sepak terjang adik-adik HMI yang belakangan ini dianggap telah bergeser dari nuansa intelektual.

HMI Jilid Dua

Hampir tiga pekan jagat maya dan pemberitaan media diramaikan dengan berita perjuangan KAHMI di daerah untuk menjadi tuan rumah Munas KAHMI yang ke XI. Dari enam daerah yang menjadi calon tuan rumah yaitu Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, NTB, Sulawesi Utara dan Lampung. Pada awal Februari, rekan-rekan dari KAHMI SULTENG sudah hampir bernafas lega karena melihat daerah yang lain tidak begitu antusias untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Munas. Tidak begitu antusias maksudnya daerah-daerah tersebut menunggu keputusan dari Majelis KAHMI Nasional. Ketika diputuskan pada akhir Februari ini baru bergerak. Toh pelaksanaan Munas KAHMI yang XI masih lama yakni pada bulan November 2022. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka kawan-kawan dari KAHMI SULTENG yang merasa selangkah lebih maju dalam mempersiapkan diri sebagai tuan rumah merasa lega bahwa daerah lain tidak seantusias Palu. Maka dipostinglah pemberitaan tentang kesiapan Palu (SULTENG) sebagai tuan rumah Munas baik dalam acara HMI dan KAHMI seperti jalan sehat maupun dalam even-even lain.

Hanya dua pekan berselang, antuasiasme Palu sebagai tuan rumah terpatahkan oleh gerakan massif KAHMI SULUT. Palu yang semula mempublis mendapat dukungan dari Gubernur Sulawesi Tengah, Di salib dengan dukungan yang sangat beragam dari Sulawesi Utara dan Gorontalo yang ditarik ikut-ikutan memberikan dukungan yang beragam. Mulai dari Walikota Bupati, DPRD dan terakhir Gubernur Sulawesi Utara turut memberikan dukungan untuk mengimbangi dukugan dari Gubernur Sulawesi Tengah. Bahkan dukung mendukung jauh melampaui garis batas katulistiwa (meminjam bahasanya Bang Fadli Tantu) ketika tanda tangan dukungan sampai ke Bupati Maros, Kendari dan Maluku untuk mendukung salah satu dari daerah yang sedang rebutan menjadi tuan rumah, Palu atau Manado. Kalangan artis dan selebriti-pun tak mau ketinggalan. Ketika Pasha Ungu memberikan dukungan untuk Palu, maka putri Pariwasata Sulawesi Utara pun ikut angkat suara untuk mendukung daerahnya menjadi tuan rumah Munas.

Celakanya motor penggerak dari rebutan tuan rumah munas kali ini (Manado dan Palu) adalah kawan-kawan sepantaran, tidak hanya kenal dekat tapi merupakan kawan-kawan seperjuangan penulis yang telah cukup lama bersama dalam suka dan duka. Sebut saja sdr Haris A. Surahman, sdri Femmy dan Kalsum M. adalah Pengurus Cabang Tondano pada saat saya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Tondano periode tahun 1998 sampai 2000 yang sama-sama berjuang membangun eksistensi HMI di tanah Minahasa yang tergolong Islamnya sangat minoritas. Dengan masing-masing jabatan sebagai Kabid PTKP, PAO dan Wakil Bendahara yang benar-benar menjadi tulang punggung penulis saat itu. Sementara untuk teman-teman penggerak dari Palu, sebut saja Usman Dai, Salehudin dll adalah teman-teman yang sama-sama dari Pengurus Besar HMI yang cukup lama berproses dan sempat mempunyai memori kolektif yang tak terlupakan ketika tragedi kerusuhan di Poso pada tahun 2001. Dimana saya, sdr Usman Dai, Mahading, Kang Mansur dan Embang putra dari Lombok akan mengantarkan bantuan dari Yayasan Nurani Dunia yang dipimpin oleh Dr. Imam Prasojo. Juga difalisitasi oleh Bapak Amin Rais untuk kapal Pelni yang mengangkut barang-barang bantuan kami, dan Bang Sofhian Mile mempasilitasi perjalanan dari Palu ke Poso.

Pada mulanya bantuan ini diniatkan untuk dibagikan secara netral baik dikalangan muslim maupun non muslim namun ketika dalam perjalanan kami “disandera” oleh Laskar Jihad sehingga bantuan hanya bisa dimasukkan dikalangan muslim dan dikalangan non muslim dilarang masuk karena dianggap berbahaya bagi kami yang membawa bendera HMI. Kawan-kawan yang semula takut mendengar letupan bedil dan pistol, namun dalam beberapa hari di Poso telah terbiasa. Disitulah untuk pertama kali saya dan kawan-kawan memegang pistol dan belajar menembakan pistol yang dipinjamkan oleh Laskar Jundullah dari Makassar yang diterjunkan ke Poso. Pergerekan laskar jihad sudah hampir memasuki Tentena, basis dari saudara-saudara yang non muslim di Sulawesi Tengah. Para petinggi jemaat meminta bantuan sampai ke Vatikan yang akhirnya keluar perintah dari Ibu Megawati untuk penarikan laskar jihad dan genjatan senjata diberlakukan untuk kedua belah pihak. PB HMI pun meninstruksikan untuk timnya yang sedang berada di Poso untuk segera kembali ke Jakarta. Itulah gambaran kedekatan penulis dengan teman-teman PB HMI yang berasal dari Sulawesi Tengah. Nah dalam kondisi tarik menarik tuan rumah munas KAHMI kali ini, paling tidak ada tiga orang yang dalam posisi “ Tagepe” (dalam bahasa manado). Yaitu saya sebagai Mantan Ketum HMI Cabang Tondano, Kak Padli Mantum HMI Cabang Manado dan Inge Moga Lestari sebagai Mantan Ketua Kohati Cabang Manado. Kenapa terjepit atau tagepe ? karena cabang kami di Sulawesi Utara sementara domisili kami di Sulawesi Tengah. Jadi untuk menarik dukungan atau pilihan antara Manado atau Palu posisi kami di kedua belah pihak pasti salah dan kena sumprit. Jadi langkah yang paling aman adalah babadiam jo meminjam dialek bahasa Manado.

Ternyata gerakan massif dari Manado dan Palu untuk meminta sebagai tuan rumah pada penghujung Februari ini dikuti pula oleh daerah lain yang juga menjadi tuan rumah Munas tidak hanya datang dari Palu dan Manado, Lombok dan Surabaya juga mulai bersuara dan meramaikan suasana. Ikut-ikutan memperebutkan sebagai tuan rumah Munas dengan menggalang dukungan dari berbagai pihak seperti yang dilakukan oleh para alumni HMI di Palu dan Manado. Maka semakin ramailah pemberitaan di media dan jagat maya tentang rebutan tempat Munas, menjadi trending topic dan menarik perhatian khalayak ramai. Disatu sisi pemberitaan yang cukup ramai ini mendapatkan sisi positif, namun disisi lain ada juga pihak yang merasa geli serta senyum-senyum sambil berucap wah rebutan tempat Munas sama dengan rebutan tuan rumah Kongres HMI, bisa jadi ini HMI jilid dua, mereka energik kembali walau telah digerus usia.

Urgensi Tempat dan Perlunya Munas Berkualitas

Pada tanggal 25 -27 Februari 2022 akan dilaksanakan Rakornas KAHMI ke IV di Batam. Disamping membahas hal-hal yang sudah rutin di bahas pada setiap Rakornas, kali ini Rakornas di Batam sangat menarik dan ditunggu oleh semua kalangan HMI terutama Alumni HMI karena akan memutuskan tempat tuan rumah Munas KAHMI seperti yang telah ditetapkan enam Provinsi sebagai calon tuan rumah. Tidak hanya dari kalangan korps hijau hitam, tapi dari pihak luar yang sudah terseret arus ikut-ikutan mendukung sebagai tuan rumah tempat Munas. Mencermati hal ini maka ada beberapa pointer yang bisa kita cermati sebagai warga himpunan untuk membangun dan menata “rumah besar hijau hitam” kearah yang lebih baik.

Pertama, dengan ramainya pemberitaan dan dengan banyaknya pihak yang tertarik, sekedar menyimak atau bahkan terlibat langsung dalam mendukung daerahnya ditempati sebagai tuan rumah Munas KAHMI yang ke XI ini berarti arti penting KAHMI atau HMI telah banyak dirasakan oleh masyarakat luas.

Kedua, ide awal dari perumusan dibentuknya KAHMI pada tahun 1996 agar organisasi ini bisa menghidup-hidupkan dan membantu HMI. KAHMI hanyalah sebuah organisasi yang sedikit lebih tinggi diatas “arisan” seyogyanya hanya menjadi ajang silaturrahmi para Alumni HMI untuk kangen-kangenan, urun rembuk dan bernostalgia tentang masa-masa perjuangan masa mahasiwa dan ber HMI dulu. Namun tugas utamanya tetap melekat yaitu membantu dan menghidup-hidupkan HMI. Dan beberapa tokoh sentral Alumni HMI seperti Bang Akbar Tandjung dan Pak Jusuf Kalla sepakat akan hal ini. Jadi ketika KAHMI telah menjadi organisasi yang rapi, bukan lagi hanya sebagai tempat ngumpul-ngumpul hal ini akan semakin mereduksi tampilan dan nilai juang adik-adik HMI yang saat ini semakin meredup dan sembunyi di bawah bayang-bayang KAHMI. Hal perlu kiranya dibahas dalam Munas KAHMI nanti.

Ketiga, Kepentingan apa yang akan direbut atau diperjuangkan dalam ajang Munas KAHMI kali ini?. Apakah kepentingan Pilpres 2024, Kepentingan Investasi dan penguatan IKN atau kepentingan memasuki era fasifik. Jika kepentingan-kepentingan dapat dirumuskan dan di jabarkan maka rebutan tuan rumah Munas dapat mahfum diaminkan. Jika dalam Munas KAHMI kali ini hanya kepentingan Pilpres yang menguat, dimana disana menjadi ajang para kandidat konsolidasi dan menemukan formula untuk star menarik simpati, maka tempat Munas tidaklah urgen. Dimana di 6 Provinsi yang telah ditunjuk sama saja. Tidak ada satu pun kandidat Capres yang sangat diuntungkan karena tempat Munas.

Namun jika untuk kepentingan penguatan memasuki era pasifik yang disana ada IKN (Ibu Kota Negara) Nusantara, Litium (Nikel) di Morowali, Gas Donggi Senoro di Banggai, Laut Banda dan Blok Masela, maka kedua Provinsi yang rebutan menjadi tuan rumah yaitu Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara menjadi absah adanya untuk digagas dan dibahas dengan serius di Munas KAHMI ke XI. Karena ini tidak hanya menjadi penentu dan laju gerak kesejahteraan rakyat Indonesia kedepan, tapi kesejahteraan ummat manusia banyak tertolong dengan bisa dimaksimalkannya Kawasan ini. Apalagi setelah Blok Masela dapat beroperasi.

Keempat, Jika kita semua sepakat bahwa tugas ber-HMI tetap masih berlanjut dalam KAHMI, maka untuk mencapai Munas yang berkualitas kali ini perlu menghadirkan mantan-mantan Ketua Umum dari masa ke masa sejak himpunan ini berdiri. Minimal pikiran dan gagasan mereka jika yang sudah tiada. Kenapa harus Ketua Umum? Karena merekalah orang-orang limited edition yang pernah ada dihimpunan ini. Harus bisa dirangkum gagasan dan pemikiran mereka saat maju menjadi Ketum PB HMI. Selanjutnya kehidupan mereka pasca ber-HMI, apakah sebagai politisi, birokrat, pengusaha, Ilmuwan dll. Sepak terjang dan keberhasilan atau kegagalan mereka, serta sejauh mana arti penting mereka dalam mewarnai perjalanan bangsa ini, dengan tidak menafikan keberhasilan kader-kader yang lain diluar Mantan Ketum PB. Masihkah mereka tetap dalam koridor perjungan setelah pasca ber HMI atau ada yang bahkan menyimpang dari gagasan mereka tentang ke Islaman dan Ke Indonesiaan. Ketika ini dapat dihimpun maka Munas ke XI pada bulan November nanti yang entah mau diputuskan di Provinsi mana nanti akan ada pemberitaan juga yang cukup ramai dan berkualitas tidak hanya rebutan tuan rumah Munas, tapi KAHMI telah berhasil mengambil keputusan dan langkah strategis kedepan sebagai sebuah himpunan yang menjadi harapan umat dan bangsa. Yakusa. (**)

Penulis adalah Ketua Umum HMI Cabang Tondano periode tahun 1998 – 2000.

Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait