Home » Rubrik » Opini » Sayonara, Hilman Hariwijaya !
pasang-iklan-atas

Sayonara, Hilman Hariwijaya !

Pembaca : 18
20261981-20foto29780x390

Oleh : Indra Jaya Piliang

Salwa Salamaki terkaget. Satu nama muncul di seluruh akun media sosialnya. Ditulis kakak-kakak kelasnya, teman-teman kakaknya, para pegiat literasi. Telah berpulang seorang novelis, Hilman Hariwijaya. Nama yang identik dengan LUPUS, novel paling laris tahun 1980an dan 1990an.

Salwa baru menginjak usia 30 tahun. Ia profesional. Bekerja di perusahaan minyak yang identik dengan laki-laki.

Salwa pernah membaca novel SAMAN karya Ayu Utami. Sosok misterius. Laki-laki gagah yang bekerja di anjungan minyak lepas pantai, berkeringat, berpikiran kritis, revolusioner, pun puitis dan melankolis dalam novel Saman itu yang membuat Salwa jatuh cinta kepada pekerjaan geologi itu.

Salwa membuka laman Ara Melodimen, sosok anonymous yang sudah lama ia kepo-in.

Eureka!

Profil akun itu sudah berubah! Tak lagi siluet!

Seorang laki-laki berkumis tipis berambut berombak di bagian depan. Membuka kancing baju bagian atas. Dengan pakaian Sekolah Menengah Atas jaman baheula. Kedua pangkal lengan dilipat. Seperti jagoan. Yang berbeda, lelaki remaja itu sedang memimpin rapat OSIS, Organisasi Siswa Intra Sekolah.

“Seorang laki-laki yang membawa generasi kami kearah kemerdekaan atas tubuh kami, telah pergi. Lelaki yang membuat kami percaya bahwa rambut kami tidak wajib rapi, bak akademi militer.

Soedjatmoko, bahkan bersedia dikeluarkan dari sekolah kedokteran zaman Jepang, ketika rambut-nya hendak dibotakin oleh Kempeitai, polisi rahasia Jepang. Soedjatmoko menolak. Ia dikeluarkan dari sekolah kedokteran, bersama sejumlah kawannya. Ia membentuk tentara pelajar, bersama Mahar Mardjono.

Dan Jepang sudah melakukan dalam rezim Tokugawa, selama era Restorasi Meiji, ketika kuncir para samurai diputus pedang.

Selamat jalan, the Last of Samurai in my high school time, Hilman Hariwijaya San. Sayonara!.”

‘Hmmmm. Wajah moderen seperti ini yang menjadi sosok pembebas bagi seorang Melodimen? Nggak salah?’ batin Salwa, sambil memperbesar wajah Hilman.

‘Astagaaaaaaa! Dan ini tampang anonymous Ara Melodimen itu? Culun bener? Berarti hari ini doi membuka identitasnya? Semacam declaration of independence men? Tampang ini kayaknya eike kenal? Siapa ya? Ah, nantilah eike tanya Paman Gober!’ pekik Salwa.

Paman Gober adalah julukan Salwa dan teman-temannya kepada laki-laki asal Kepulauan Buru berdarah Yaman, lulusan Jurusan Geologi Universitas Morotai itu. Laki-laki yang sudah mulai ditumbuhi uban, dari rambut di kepala, jambang, dan kumis. Berusia di awal 50 tahun. Kata-katanya tajam, seperti parang yang digunakan Kapiten Pattimura dan Kapiten Jonker.

Bukan, Paman Gober tak seperti paman dari Trio Kwek Kwek dalam cerita Donald the Duck. Paman Gober ini tak menumpuk harta, tak juga pelit, tetapi mengoleksi segala jenis senjata dalam kepala, pikiran, dan kata-kata. Pedang, kelewang, badik, rencong, mandau, kujang, keris, rudus, sampai anak-anak panah beracun. Paman Gober mampu mengiris-iris siapapun orang yang berbicara dengannya, terutama teman-teman dekatnya yang segenerasi.

Namun, sebaliknya, Paman Gober bakal berubah menjadi laki-laki yang seharum kulit manis, cengkeh, pala, hingga anggrek, kalau berbicara kepada keponakan-keponakannya. Lembut. Wangi.

Tangan Salwa bergerak cepat mengalihkan mouse ke sebelah kanan. Tak puas dengan satu pendapat saja. Ia singgah ke akun seorang perempuan, sosok yang adem, pesohor yang dingin: Hana Cadabra. Sosok yang entah mengapa, membuat Salwa selalu bergerak ke seluruh area negeri ini, membaui tanah, mereguk air, dan memandang rembulan di langit.

“Bang Hilman Hariwijaya, selamat jalan. Kau telah membuat kaum lelaki zaman kami tak lagi menyukai tawuran, tetapi gelembung karet di mulut dan gelang karet di tangan kiri. Walau itu masih berupa getah karet yang disadap dari pohonnya.”

Begitu bunyi unggahan Hana. Singkat. Salwa senang dengan unggahan Hana, perempuan berusia akhir 40an tahun. Hana seolah meruntuhkan maskulinisme, menasbihkan feminisme, tetapi tak dengan cara kasar. Hana tak banyak bicara, apalagi menuliskan pikiran lewat ungkapan kata dan kalimat. Jauh lebih panjang kalimat-kalimat Ara, dibanding Hana.

***

Terjadi keributan di jagat Instagram, Twitter, Facebook, Tiktok, hingga percakapan lewat Telegram, Youtube, WhatsApp dan aplikasi lain. Media online ikut menulis berita. Banjir berita, satu cerita.

Viral!

“Benarkah ini wajah Ara Melodimen ketika masih pelajar sekolah menengah atas?” begitu mayoritas unggahan yang masuk.

Ara tersenyum. Tak ada yang ia komentari, dari begitu banyak unggahan yang masuk. Ia memilih sunyi. Hanya membaca. Ia membolak-balik koleksi Lupus karya Hilman. Bukan hanya itu, Ara menyambar novel-novel lain karya Gola Gong, Arswendo Atmowiloto, Mochtar Lubis, Buya HAMKA, Dewi (Dee) Lestari, Ayu Utami, Nova Riyanti Yusuf dan lain-lain.

Keseluruhan novel itu ia masukkan ke dalam kontainer. Tertulis: FIKSI.

“Hilman San sudah terang kuburannya. Biar ia di alam sana menjadi maghnet bagi generasi nanti. Sekarang, Ara Melodimen tak lagi fiksi. Non fiksi. Berurai kenyataan. Apa gunanya tahun 80an sampai 90an Hilman San membebaskan kami dari disiplin ala Kempeitai, berambut cepak, seragam, seolah robot? Di usia kini, apa yang terekam di balik rambut gondrong kami, patut disampaikan kepada khalayak,” batin Ara.

Ia membongkar ribuan buku-bukunya dari lemari-lemari besi, kontainer, dan rak. Buku-buku itu ia serakkan di lantai satu apartemennya. Fiksi dipisahkan dengan non fiksi. Ia susun dan rangkai.

Ia ingin mengurutkan buku-buku itu. Tetapi biarlah, besok juga masih ada waktu. Dan besok lagi.

Dari tangga yang melingkar ke lantai dua, ia memotret buku-buku non fiksi yang berserakan itu.

Buku-buku yang membentuk tulisan: “Freedom Men!”

***

Paman Gober menerima panggilan tak terjawab via berbagai kanal: WhatsApp, panggilan langsung, Telegram, direct mention via Twitter, dan message via Facebook. Dan itu dari satu nama: Salwa Salamaki.

Pas dia lihat Salwa online, Paman Gober menelepon.

“Kenapa, Salwa?”

“Paman tidur lagi? Atau menelepon dan marah lagi sama kawan-kawan Paman? Jawaaaaaab segera, siapa itu Ara Melodimen? Siapanya Paman?”

Paman Gober tergagap. Tercekat. Dia matikan telepon. Dia lihat wajah yang dikirim Salwa. Sosok yang ia kenal sejak lama. Dan entah mengapa, ia jaga hingga setua ini.

Kembali ia menelepon Salwa.

“Begini, Salwa. Kalau kamu mau mengetahui siapa Ara Melodimen, ikuti saja terus akunnya. Jangan bertanya kepada rembulan di langit, aliran air di hutan, atau debu-debu jalanan. Paman tak akan bicara, kalau perlu paman memotong lidah paman. Tetapi kalau kamu mau bertanya keadaan Jaka, Kenanga, dan Alfanna, paman bisa cerita. Sedikit. Lebih baik kamu yang telepon mereka langsung.”

Begitu Paman Gober meninggalkan pesan lewat voice mail. Bukan menulis kata-kata. Tetap ia menyemburkan seluruh senjata dari mulutnya. Menembakkan ke Salwa. Merekam keseluruhan dampak senjata-senjata itu.

Lembut, tapi mengucurkan keringat dan darah di hati dan jiwa Salwa.

“Paman jahaaaaaat! Eike benci pamaaaaaaan. Titip salam sayang dan peluk cium untuk Jaka, Kenanga, dan Alfanna. Bilang mereka, ayah mereka jahaaaaat!” balas Salwa, juga via voice mail. Paman bicara tengadah, keponakan berteriak ternganga!

Paman Gober tertawa.

***

Hana Cadabra mengikuti keriuhan dari kehadiran Ara Melodimen. Selama ini, Hana membaca setiap momen, kalimat atau unggahan Ara.

“Lelaki yang punya hati. Dan bernalar demgan hati. Tak banyak yang seperti itu. Persoalan seserius, serumit, dan sekomplit apapun, ia urai cepat, seakan tak menggunakan pikiran. Terpelajar, tapi tak bertameng teori,” ujar Hana tentang Ara kepada teman kuliahnya sejak seperempat abad silam, ketika mereka ngerumpi di sebuah café bilangan Senayan.

Sering ia setuju, walau berkali-kali juga tak sependapat. Dan itu ia sampaikan kepada ibunya, atau kadang suaminya.

Namun, apa yang ia ingin sampaikan kini,? Ia termasuk barisan orang-orang yang bertanya itu, “Siapakah Ara Melodimen?”

Namun, selintas saja pikiran itu. Hana lebih menyukai berita-berita perang di Ukraina yang dilancarkan Russia. Sembari, melihat ke dalam negara sendiri.

“Apakah kebun-kebun karet di negara ini bisa mengikat bangsa ini, selamanya, Bang Hilman?” begitu yang ada dalam pikiran Hana.
Penulis Lupus berpulang, perang di negara belahan utara menggerayangi dunia, sementara di negara sendiri, segala macam persoalan muncul bersamaan, bayang berbayang, entah nanti saling bertumbukan, atau konvergen, berangkulan.

Hana menaruh permen karet yang dikunyahnya sejak tadi di halaman depan novel Lupus yang sudah lusuh, koleksinya. Ada tanda tangan dari Hilman Hariwijaya. Basah.

Di dalam tasnya, kini tersedia permen karet yang tadi dia beli di supermarket.

Ia bawa perekat lentur itu, entah sampai kapan. Jauh di dasar hati, ia ingin memberikan permen karet itu kepada Ara, entah siapa dia. (**)

Kemayoran, Jakarta, 12 Maret 2022

Penulis Adalah Kolomnis

Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait