Home » Rubrik » Pilpres Tiga Gobang !!!
pasang-iklan-atas

Pilpres Tiga Gobang !!!

Pembaca : 80
images

Oleh : Indra Jaya Piliang

Kelembagaan politik dewasa ini menghadapi penghakiman yang serius. Bukan vox populi vox dei yang menjadi pengemudi. Tetapi para penggiat media sosial. Ruang nirkabel yang punya agenda setting tersendiri. Tentu, terdapat sejumlah manusia sebagai admin akun-akun media sosial itu, terutama twitter dan instagram. Apa yang dijadikan kebijakan publik dari penyelenggara negara didiktekan oleh viral atau tidaknya isu-isu yang diangkat.

Delapan bulan jelang hari pilpres, sudah terdapat dua nama Bacapres yang memenuhi syarat dukungan parpol. Yakni, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Dari sembilan parpol di Senayan, sudah tiga parpol yang resmi mengusung Anies (PKS, Partai Nasdem dan Partai Demokrat) dan dua parpol bersama Ganjar (PDI Perjuangan dan PPP). Empat parpol belum menggelar deklarasi Bacapres, yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, PKB, dan PAN.

Peneliti senior yang sekaligus boss saya dulu di Centre for Strategic and International Studies Jusuf Wanandi yakin bakal hanya ada dua pasang Capres-Cawapres. Namun belum ada tanda-tanda Anies dan Ganjar bakal ditinggalkan parpol pengusungnya. Bahkan kerjasama antar parpol semakin solid, termasuk dalam bentuk aktivasi relawan. Empat parpol lain, bisa jadi mengusung satu pasang Capres-Cawapres. Namun, walau kecil, bisa muncul dua pasang kandidat lagi. Di luar Partai Hanura yang sudah menyampaikan dukungan terhadap Ganjar, masih terdapat sejumlah partai non parlemen nasional yang tentu juga masuk hitungan. Baik Partai Gerindra atau Partai Golkar, hanya butuh satu partai koalisi berbasis parlemen nasional atau bisa dari gabungan parpol non parlemen nasional.

Tampaknya masing-masing parpol masih sibuk dengan perbaikan berkas calon legislator. Belum lagi waktu yang begitu banyak tersita dalam menunggu putusan Mahkamah Konstitusi terkait sistem pemilu legislatif. Bakal terjadi kegaduhan dan keguncangan yang serius di dalam tubuh parpol, apabila sistem proporsional tertutup kembali berlaku. Apalagi Mahkamah Konstitusi pernah mengeluarkan putusan yang berujung kepada penggunaan sistem proporsional terbuka dalam pemilu 2009, sekalipun substansi gugatan tidak persis sama.

Di luar Anies dan Ganjar, terdapat Prabowo Subianto sebagai Bacapres yang diusung Partai Gerindra dan PKB. Belum ada deklarasi resmi, tetapi tak bakal Prabowo mengambil posisi sebagai Bacawapres. Yang paling terlihat gamang adalah Partai Golkar. Hanya saja, dibalik situasi itu, daya dongkrak Partai Golkar yang kokoh mengedepankan Airlangga Hartarto sebagai Capres paling kuat dibanding parpol lain. Ke kubu koalisi manapun Partai Golkar bergabung, akan memberikan pengaruh besar dan positif. Soliditas Partai Golkar menjadi parameter utama, diluar mesin partai, sumberdaya manusia dan logistik yang dimiliki.

***
Kalau hanya tiga pasang Capres-Cawapres yang menjadi peserta Pilpres 2024, saya teringat pementasan Orkes Tiga Gobang yang dimainkan Teater Universitas Indonesia di Taman Ismail Marzuki pada 19 Mei 2012. Orkes Tiga Gobang diadaptasi dari naskah The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht. Kisah seorang putri dari Raja Pengemis yang diculik Raja Perampok dan dinikahi di kandang kuda. Sang Perampok diburu dan ditangkap polisi. Diadili.

Saya sempat membacakan puisi “Di Dalam Kubur (1)” dan “Di Dalam Kubur (2)” dalam pementasan itu.

“Jangan biarkan lelaki ini mati konyol!

Jangan biarkan cinta mati bersamanya!

Pergilah ke Mahkamah Konstitusi!

Pergilah kepada aktivis-aktivis kemanusiaan anti hukuman mati!

Mohonlah pengampunan!
Bebaskan ia dari hukuman mati!
Singa dari padang pasir ini.
Buaya dari Pasar Ikan Muara Angke ini.

Si Raja Bandit!

Kini antri bagai domba di pejagalan.”

Pilpres pada prinsipnya adalah orkestrasi hidup dan kehidupan bagi manusia dan kemanusiaan. Hanya saja, hingga hari ini, pembicaraan seputar Pilpres justru menjadi ajang balas dendam, adu dengki, dan jual beli mantra yang berisi kutukan. Dan tiba-tiba saja, waktu semakin menipis, lalu tiba-tiba habis.

Setelah Tempat Pemungutan Suara di ujung barat Indonesia ditutup tanggal 14 Februari 2024, hasil-hasil quick count menghiasi layar televisi. Hasil yang nampak seperti tiang-tiang gantungan bagi pihak yang kalah. Dan bagai gadis cantik yang penuh cinta bagi yang menang.

Usai Pilpres, masih terdapat waktu delapan bulan sebelum pelantikan Presiden dan Wapres Terpilih. Waktu yang lama, sangat banyak, kalau digunakan maksimal. Waktu yang sedikit, sia-sia, terbuang percuma, kalau hanya sekadar ajang menggunakan psikologi dan aksi massa guna memupuk dendam.

Jika terdapat tiga atau empat pasang kandidat, tentu sulit bagi pasangan manapun guna meraih suara sebesar 50% + 1. Berbagai pemilu di sejumlah negara belakangan ini juga menunjukan itu. Tak mudah lagi meraih suara mayoritas di negara-negara multipartai yang menggunakan sistem parlementer. Di negara-negara yang menerapkan sistem presidensial, kian jarang satu putaran hadir, apabila kandidat lebih dari dua pasang. Berjenis simulasi hasil survei juga menunjukkan itu.

Bagaimana kalau fragmen Raja Bandit dan Raja Pengemis kita ubah dalam lakon Pilpres 2024?

Dengan tiga pasang kandidat, bakal memicu persoalan psikologis dalam apa yang sering disebut sebagai “mengulangi Pilgub DKI 2017”. Banyak yang lupa, Pilgub DKI 2017 bukan diikuti oleh dua pasang kandidat, melainkan tiga pasang. Politik identitas benar-benar meledak, ketika Anies – Sandi yang berhadapan dengan Ahok – Djarot di putaran kedua. Belum lagi bergabungnya timses Agus Harimurti Yudhoyono kepada salah satu atau kedua pasang kandidat. Yang mengerucut di publik adalah Anies vs Ahok, sama sekali lupa dan tak menyertakan Sandi vs Djarot. Perbedaan apapun diasah dan diiris biar kian tajam dan berdarah. Yang masuk Jakarta sebelum hari pemilihan bukan hanya warga Jakarta yang punya hak pilih, tetapi para relawan dari berbagai daerah, berabung ke kedua kubu. Saya kira, substansi kekhawatiran yang ingin disampaikan Jusuf Wanandi terkait lebih dari dua pasang kandidat, berhulu dari Pilgub Jakarta 2017 itu.

Tapi, tunggu dulu. Pilpres yang berujung dua putaran terjadi pada tahun 2004 dan 2009. Amien Rais – Siswono Yudohusodo, Hamzah Haz – Agum Gumelar, dan Wiranto – Salahuddin Wahid kalah dalam putaran pertama Pilpres 2004. Susilo Bambang Yudhoyono – Muhammad Jusuf Kalla berhadapan dengan Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi bersua dalam babak final. Dalam putaran kedua Pilpres 2009, Muhammad Jusuf Kalla – Wiranto tersingkir. Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono berhadapan dengan Megawati Soekarmoputri – Prabowo Subianto. Dampak psikopolitik sangat terasa di lapisan elite, usai Pilpres yang berlangsung dua putaran itu. Tokoh-tokoh yang tak saling bertegur sapa, bahkan pada hari-hari penting, seperti Upacara Kenegaraan Hari Kemerdekaan di Istana Negara. Pilpres 2014 dan 2019 hanya diikuti dua pasang kandidat. Tak terjadi dua putaran.

Berkaca dari kehendak mencapai kepuasan dari para peserta dan pendukung, cara terbaik dalam menghelat Pilpres yang diikuti tiga pasang kandidat adalah Pilpres Tiga Gobang alias Tiga Putaran! Pilpres yang bernuansa tontonan dan hiburan, kompetisi dan perlombaan.

Bagaimana caranya?

Dari ketiga pasang kandidat, hanya dua pasang kandidat yang menjadi peserta dalam masing-masing putaran. Masing-masing kandidat berhadapan dengan kedua pasangan lain di hari pemilihan yang berbeda. Head to head! Kita simulasikan.

14/02/2024: Anies vs Ganjar.

13/03/2024: Prabowo vs Anies.

10/04/2024: Ganjar vs Prabowo.

Pemenang Pilpres Tiga Gobang ini dihitung dari total pemilih yang didapatkan dalam dua kali ikut kontestasi. Perhitungan sampai satuan terkecil.

Dengan tiga putaran, terjadi penurunan tensi politik irrasional, primordial, dan simbolis. Kenapa? Pemilih beralih pilihan dalam setiap putaran. Pilpres Dua Putaran menghadirkan loyalitas kepada satu pasang kandidat saja yang dipilih dua kali. Dua kali kesetiaan. Dengan tiga putaran, minimal satu pemilih bakal “dipaksa” satu kali putaran guna memilih pasangan kandidat lain yang “musuh” bebuyutan.

Pemilih Anies hanya dapat dua kali kesempatan, tanggal 14 Februari dan 13 Maret. Tanggal 10 April, pemilih Anies hanya punya satu dari dua pilihan: Ganjar atau Prabowo. Begitupun sebaliknya. Betul, bisa saja pilihan abstain atau tak hadir di Tempat Pemungutan Suara. Tetapi konsekuensi yang didapat makin besar, sebab besar atau kecilnya perolehan Ganjar atau Prabowo, bakal mengubah komposisi hasil akhir. Apalagi kalau selisih suara berlangsung ketat dalam putaran kesatu dan kedua.

***

Pilpres adalah panggung teater raksasa. Jumlah pemilih muda yang jauh lebih banyak dibanding pemilih dewasa dan tua, tentu membutuhkan Pilpres yang tak sekadar mencari siapa yang menang, siapa yang kalah. Lihat saja, betapa tak ada sorak-sorai mencemooh, kala Tim Nasional Indonesia kalah dalam Piala AFF 2022. Sebab seluruh pemain ysng dikomandoi Shin Tae-yong sudah menunjukkan talenta dan daya juang yang maksimal di lapangam. Tak ada lagi sepakbola sabun. Begitu juga bagaimana antusiasisme perburuan atas tiket konser Coldplay. Apapun tontonan yang dihadirkan, terlihat sekali gairah yang hebat di kalangan warga negara Indonesia.

Pilpres seyogianya dijadikan sebagai panggung tontonan yang menarik. Bukan ajang menciderai lawan yang jauh dari nilai sportifitas. Atau sibuk dengan gosip artis yang hadir di panggung. Sebagai tontonan yang tentu berisi pendidikan politik, anggaran kesehatan, visi keindonesiaan, misi kemanusiaan, program pemerintahan, dan segala macam pernak pernik lain, sangat tak menarik jika debat antar capres, antar cawapres, atau antar pasangan, hanya berlangsung sekali atau dua kali. Kalau perlu, tak hanya debat yang dijadikan ajang menarik pemilih, tetapi juga adu baca pantun, puisi, catur, masak, takraw, atau sekadar jalan cepat di lintasan singkat.

Tentu, butuh waktu lagi guna menyusun regulasi terkait Pilpres Tiga Gobang ini. Baiklah. Kalaupun tak bisa dihelat, sedapat mungkin proses menuju tanggal 14 Februari 2024 dijalankan secara menarik. Walau, waktu terlalu singkat. Agenda begitu padat. Yang pasti, jangan sampai muncul penyesalan ala kutipan puisi “Di Dalam Kubur (2)” tadi, kala hasil Pilpres membuat dua dari tiga pasang kandidat beserta seluruh parpol, timses dan relawan, tertunduk ketika angka quick count mencapai angka 80%. Sehingga lupa menyiapkan pidato kekalahan. Siap menang. Tak siap kalah.

“Dia merengek, memohon rasa kasihan.

Masih ada harapan, sebelum mereka bertindak.

Terlalu dini.
Terlalu muda.
Dia terjebak dalam lubang kubur.
Korban dari nasib.
Kafan dari takdir….”

Markas Gerilyawan, Griya Kemayoran, Sabtu, 24 Juni 2024

Penulis adalah Ketua Biro Kaderisasi dan Keanggotaan DPD Partai Golkar DKI Jakarta

Print Friendly, PDF & Email
Berita Terkait